Kamis, 03 Desember 2015

Ikhlas, Do’a, dan Harapan Memberi Ruh dalam Beribadah




IKHLAS, do’a dan harapan memang memberi ruh dalam beribadah. Ketika kita merasa lelah, malas, dan kita ingat semua itu. Wah, semangat beribadah semakin membara dalam diri kita. So? Ikhlas, do’a dan harapan itu memang harus ada dalam diri kita. Agar kita selalu semangat menjalani ibadah di dunia ini untuk kelak di akhirat.
Wacana-wacana yang menjadikan “kekurangan beranian” atau “kesungkanan” untuk meyakini itu secara bulat, baik di praktik maupun di teori (menjadi metode) dalah sebab ada wacana bahwa “Ibadah itu harus ikhlas. Tidak boleh beribadah karena dunia-Nya. Harus karena wajah-Nya semata.


قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS: Al-An’am Ayat: 162)


Kalau kalimatnya seperti di atas, siapa yang berani memberi kritik? Siapa yang berani mengoreksi? Dan siapa yang berani memberi catatan? Saya pun tidak akan berani. Apa pun yang kita lakukan tentu harus mengikhlaskan diri kita karena Allah semata.


Tapi tunggu dulu! Orang-orang yang mencarari dunia milik Allah lewat jalan ibadah pun tidak mesti juga serta merta dikatakan tidak ikhlas. Bagaimana kalau mereka secara cerdas, “memisahkan” antara keikhlasan dan do’a?” “Memisahkan” antara keikhlasan dengan harapan? Artinya ketika mereka menjalankan, mereka tahu dengan ilmunya bahwa dengan beribadah, dunia akan Allah dekatkan, tapi pada saat yang sama, mereka beribadah sepenuh hati kepada Allah. Harapan pun dia gantungkan semata hanya kepada Allah. Bahwa dia menempuh jalan ibadah, sebab karena Allah dan Rasul-Nya memberi petunjuk demikian. Karenanya, harus percaya dan mengikutinya.
Lalu, kita-kiya yang sedang diberi nikmat kesulitan, percaya dan berkenan mengikuti dengan harapan agar benar-benar kesulitan kita dimudahkan Allah jalan-Nya yaitu jalan sedekah, kita turuti betul, alias kita bersedekah.
Kalau menjadi metode, maka bisa dengan mudah diikuti, dicontoh, dan dirasakan oleh banyak orang. Betapapun, success story lebih mudah diserap dan masuk menjadi pemahaman bagi orang banyak.
Sumber: The Miracle of Giving/Karya: Ust. Yusuf Mansur/Penerbit: PT. Bestari Buana Murni

Keutamaan dalam memperingati MAULID NABI MUHAMMAD SAW



Menurut fatwa seorang Ulama besar : Asy-Syekh Al Hafidz As-Suyuthi menerangkan bahwa mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, dengan cara mengumpulkan banyak orang, dan dibacakan ayat-ayat al-Quran dan diterangkan (diuraikan) sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi sejak kelahiran hingga wafatnya, dan diadakan pula sedekah berupa makanan dan hidangan lainnya dengan cara yang tidak berlebihan adalah merupakan perbuatan Bid’ah hasanah, dan akan mendapatkan pahala bagi orang yang mengadakannya dan yang menghadirinya, sebab merupakan wujud kegembiraan, dan kecintaan / mahabbah kapada Rosullullah saw.


Seperti yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw :
مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنـَّةِ
“Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga”.
Dalam kitab “Anwarul Muhammadiyah“ karangan : Syekh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani, diterangkan bahwa pada saat hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, seorang wanita budak belian dari Abu Lahab (tokoh kafir jahiliyyah) yang bernama Tsuwaibah menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Nabi Muhammad Saw kepada Abu Lahab. Karena senangnya Abu Lahab mendapat berita itu, spontan budak wanitanya yang bernama Tsuwaibah itu dibebaskan dan dihadiahkan kepada Siti Aminah : Ibunda Muhammad Saw untuk menyusui bayinya tersebut.

Ketika Abu Lahab telah meninggal dunia seorang sahabat Nabi ada yang bertemu dalam mimpinya dan menanyakan tentang nasibnya di akhirat.
Abu Lahab menjawab : Saya disiksa selama-lamanya karena kekafiran saya tetapi pada tiap-tiap hari senin saya diberi keringanan dari siksaan bahkan aku bisa mencium dua jari tanganku dan bisa keluar airnya untuk saya minum.
Dan ketika ditanya : mengapa bisa demikian? Abu Lahab menjawab : Ini adalah merupakan hadiah dari Allah karena kegembiraanku pada saat kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Dalam sebuah hadits dikatakan :
مَنْ عَظَّمَ مَوْلِدِىْ كُنْتُ شَفِيْعًا لَهُ يَـوْمَ الْقِيَا مَةِ. وَمَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِى مَوْلِدِى فَكَأَ نَّمَا اَنْفَقَ جَبَلاً مِنْ ذَ هَبٍ فِى سَبِيْلِ اللهِ
“Barang siapa yang memulyakan / memperingati hari kelahiranku maka aku akan memberinya syafa’at pada hari kiamat. Dan barang siapa memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiranku, maka akan diberi pahala seperti memberikan infaq emas sebesar gunung fi sabilillah.

Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq berkata : 
مَنْ أَنْفَقَ دِرْ هَماً فِى مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiran Nabi Saw : akan menjadi temanku masuk surga”.

Sahabat Umar Bin Khoththob berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, berarti telah menghidupkan Islam”.

Sahabat Ali Bin Abi Tholib berkata :
مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْياَ اِلاَّ بِاْلإِ يْمَانِ
“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, apabila pergi meninggalkan dunia pergi dengan membawa iman”.
Melihat besarnya pahala tersebut maka banyaklah kaum muslimn muslimat yang selalu melahirkan rasa cintanya kepada Nabi dan mengagungkan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang terpuji seperti pada tiap-tiap malam Senin atau malam Jum’at mengadakan jama’ah membaca kitab Al- Barzanji, sholawat maulud, dan ada pula yang menyediakan tabungan yang berwujud uang hasil tanaman atau sebagian gajinya untuk kepentingan memperingati kelahiran Nabi Saw.

Perintis Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulud Nabi sudah diadakan oleh kalangan umat Islam sejak pada kurun ketiga atau tiga ratus tahun setelah hijrah Nabi, yang pada saat itu kondisi umat Islam mulai rusak dalam berbagai hal.

Tokoh pemerintahan yang pertama kali menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi adalah Penguasa Irbil Raja Mudzaffar Abu said Al Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Beliau adalah Raja yang cerdas ahli strategi di bidang pemerintahan, pemurah, alim dan adil. Saat itu pemerintahannya terasa kurang stabil, rakyatnya mulai banyak meninggalkan syariat agamanya, akhlaqnya mulai rusak, mulai terjadi banyak kerusuhan-kerusuhan dan kemaksiatan- kemaksiatan.

Raja Mudzaffar berinisiatif menyelenggarakan peringatan Maulid nabi setiap bulan Robi’ul Awal secara besar-besaran, dengan mengumpulakan semua masyarakat dari tokoh-tokohnya sampai rakyat kecil. Pada peringatan Maulid itu disampaikan penjelasan tentang sejarah dan perjuangan, serta keteladanan Nabi Muhammad SAW sejak lahir sampai wafatnya. Seorang ulama’ besar Syekh Al Hafidz Ibnu Dahyah yang mengarang kitab tentang sejarah Nabi yang diberi nama At-Tanwir fi Maulidil Basyir An-Nadzir, diberi hadiah oleh Raja 1000 dinar.

Setelah diadakan peringatan Maulid Nabi SAW tersebut, pemerintahan kembali stabil, semangat pengamalan agamanya makin baik, negaranya aman, tentram dan bertambah makmur. Sesuai dengan Firman Allah SWT :

وَلَوْ اَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ. (الأعراف :٩٥)
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami (Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS : Al A’raf :96).

Anjuran memperingati Maulid Nabi

Anjuran supaya memperingati Maulid Nabi sudah diisyaratkan oleh Allah SWT, dan oleh nabi sendiri. Firman Allah surat Al A’rof : 157 :

فَالَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ مَعَهُ وَاُولئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. (الأعراف :١٥٧)
Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad) memulyakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’rof :157)
Termasuk orang-orang yang memulyakan (dalam ayat ini) adalah orang-orang yang memperingati Maulid Nabi SAW, yang membaca Barzanji, Marhaban, Burdah, syair-syair dan qosidah-qosidah dan pengajian-pengajian, kalau dimaksudkan untuk memulyakan Nabi, maka akan mendapat pahala yang banyak dan akan beruntung.

Nabi Muhammad saw juga sudah memberikan isyarat tentang perlunya memperingati kelahiran Nabi sebagaimana hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Qotadah Al Anshory r.a :

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلعم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Rosulullah saw ditanya seorang sahabat tentang puasa hari Senin, maka beliau menjawab, sebab di hari Senin itu hari kelahiranku, dan wahyu diturunkan kepadaku”. ( HR. Muslim). Dari hadis ini Nabi sendiri juga memulyakan hari kelahirannya, dengan berpuasa (amal yang baik).
Beberapa pendapat tentang memperingati Maulid Nabi saw.

Di kalangan umat Islam ada beberapa pemahaman tentang memperingati Maulid nabi saw :
1. Golongan yang terbesar, yaitu yang merayakan Maulid Nabi setiap bulan Robi’ul Awwal, bahkan di bulan-bulan yang lain atau tiap-tiap malam Senin atau Jum’at dengan membaca Barzanji, membaca Marhaban dan kitab-kitab Maulid lainnya, sebagaimana yang biasa diamalkan umat Islam sejak dahulu. Golongan ini ada yang hanya membaca Barzanji saja, atau ada pula yang diteruskan dengan pengajian atau ceramah tentang riwayat dan perjuangan Nabi. Semua itu dengan maksud untuk melahirkan kecintaannya kepada nabi Muhammad saw.

2. Golongan umat Islam yang nerayakan maulid nabi tiap Bulan Robiul Awal, tetapi tidak dengan membaca Barzanji, tidak membaca Marhaban, atau kitab-kitab Maulid lainnya, karena dianggap tidak ada tuntunannya.

3. Golongan yang ekstrim, yaitu tidak mau merayakan peringatan maulid Nabi sama sekali, karena hal itu dianggap bid’ah yang harus ditinggalkan.

Hijrah adalah petunjuk kemuliaan dan kemenangan


Firman Allah Taala bermaksud: “Mereka-mereka yang berhijrah di jalan Allah setelah mereka dizalimi, nescaya Allah sediakan mereka, kebahagiaan di dunia dan ganjaran akhirat yang lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” Surah An-Nahl ayat 41.
Hijrah ialah meninggalkan segala bentuk jahiliyah dari sudut kefahaman, tingkah laku, muamalat dan seluruh cara hidup kepada mengabdikan diri dan kepatuhan mutlak hanya Allah Taala yang Esa.


Bagaimana Untuk Berhijrah?
Gambaran Saidina Abu Bakar ketika berhijrah hanya berbekal 6 ribu daripada 100 ribu dirham yang beliau telah infaqkan untuk perjuangan Islam, begitu juga tokoh muda Musab bin Umair telah meninggalkan segala pangkat dan kehidupan yang mewah semata-mata untuk menjadi pengikut setia nabi Muhammad SAW bagi menegakkan Al-Hak di atas muka bumi Allah.
Kita dapat saksikan peristiwa perit dan kesengsaraan yang berlaku pada generasi awal “Ta’sis” yang telah ditarbiyah oleh Rasullulah SAW, bagaimana mereka mampu untuk terus membawa panji Islam di setiap pelusuk dunia.
Ketika hendak dikafankan Mus’ab bin Umair, diriwayatkan “Apabila ditarik kainnya di atas maka akan ternampak bahagian tubuh bawahnya, apabila ditarik ke bawah maka akan ternampak bahagian badannya di atas.
Demikianlah pengorbanan yang telah ditonjolkan oleh para sahabat ketika peristiwa Hijrah sehingga dikenali dengan golongan Muhajirin dan pengorbanan sahabat di Madinah digelar dengan Al-Ansar. Tiada matlamat yang lain hanyalah semata-mata untuk menegakkan Al-Hak di atas muka bumi ini.
Apakah rahsia besar golongan Muhajirin?
Jawapannya ialah kepercayaan dan keyakinan mereka terhadap perubahan itu mestilah dimulai dengan hati yang bersih daripada sebarang kesyirikan terhadap Allah, Barulah ianya akan melonjak berubah menjadi bentuk amalan serta untuk mengharapkan keredhaan Allah semata-mata.


Mengapa perlu berubah?
Adakah mereka generasi awal berhijrah kerana menuntut kekayaan kerana sebelum ini mereka adalah golongan tertindas? Atau mencari kerehatan setelah diseksa di Makkah? Atau mencari pangkat dan kuasa? Adakah perjalanan dari Mekah ke Madinah itu satu perjalanan yang begitu mudah untuk ditempuhi?
Kesemua ini menjadi penanda aras kepada generasi hari ini untuk berubah dan ianya menuntut kepada pengorbanan yang amat besar. Khususnya generasi muda Islam hari ini yang telah hanyut dengan nikmat-nikmat dan keseronokan dunia yang bersifat hanya sementara, sekiranya mereka menyedari dan menginsafinya.
Pengorbanan yang tiada tolok bandingnya daripada seorang wanita yang telah sarat mengandung dan menunggu masa untuk melahirkan anaknya, sanggup mempertaruhkan nyawa beliau dan anak yang dikandungnya semata-mata untuk melihat perjuangan Islam dapat diteruskan di bumi yang baru iaitu Madinah Al- Munawwarah. Asma bt Abu Bakar mempunyai satu prinsip yang jelas iaitu pengorbanan amat diperlukan dari setiap umat Islam tidak kira keadaan apa pun mereka sedang alami dan individu muslim ini mesti membantu penghijrahan ke Madinah agar Rasulullah dan ayahandanya berjaya sampai di bumi yang subur dengan sebahagian penduduknya yang telah rela dan berbaiah dan berjanji untuk memelihara Islam dan menerima tarbiyah dari Rasullullah SAW.
Apakah keadaan kita sama seperti Asma’ bt Abu Bakar yang sarat mengandung, atau Bilal bin Rabah yang diheret di tengah padang pasir yang terik atau Amir bin Fuhairah dan ramai lagi generasi kaedah pembentukan sulbah?
Di padang Mahysar, Allah pasti akan mempersoalkan dan membalas setiap individu atas amalannya dengan seadil-adilnya. Seorang pemimpin akan ditanya tentang kuasa, dan amanah-amanah yang telah diberi kepercayaan penuh oleh orang ramai terhadapnya. Begitu juga bagi para suami, bagaimana beliau melaksanakan tugas dan tanggungjawab, tatkala beliau mula menerima lafaz ijab qabul pada awal pernikahannya.
Para isteri juga akan dihitung dan tidak ada seorang pun dari kita yang akan terkecuali. Kerana sifat Allah Yang Maha Adil itu akan mengatasi segala perundangan dan mahkamah yang dikatakan adil yang telah dicipta oleh manusia semasa kehidupan di dunia yang bersifat sementara.


Bagaimana untuk berubah?
Jangan tunggu dapat hidayah baru nak berubah. Malaikat Izrail tidak pernah menangguh walaupun sesaat untuk mencabut nyawa kita.
Bermula daripada tolakan dalaman yang begitu kuat, tentunya hati akan senantiasa berusaha mencari Al-Hak “Dengan penuh yakin anda akan berubah”.
Tanpa toleh kebelakang, tanpa menghiraukan persekitaran yang sentiasa dihiasi dengan kenikmatan oleh syaitan dan hawa nafsu, menjadikan hidup penuh  “relaks”, budaya hedonisme, hidup tanpa sekatan, peduli apa pandangan ulama’. Maka jadilah dagang, sesungguhnya Islam itu datang dalam bentuk asing( dagang ) Maka beruntunglah kita menjadi asing (dagang). Orang sekeliling akan selalu perlekehkan anda. Kalau kita yakin kita telah berada di jalan Allah, jangan sekali-kali anda lupa untuk selalu berdoa dan bermunajat kepada Allah. Nabi Muhammad SAW sentiasa beristighfar bukan sebab dosa baginda tetapi takutnya baginda akan kekurangannya bersyukur dengan nikmat pemberian Allah yang terlalu banyak sehingga tidak terhitung. “Apakah kita yakin kita tiada dosa?”
Kalau anda seorang Muslim, paksi rukun Iman kepercayaan dan keyakinan terhadap hari pembalasan, pasti akan bergetar jiwa untuk kita sama-sama bersegera untuk membuat perubahan dan pengislahan pada individu muslim, masyarakat dan seterusnya negara, agar kita semua mendapat keampunan dan rahmat Ilahi.
Justeru mengingati peristiwa hijrah Rasulullah bersama Saidina Abu Bakar dan sahabat yang lain merupakan lonjakan kepada individu-individu muslim dan khususnya kepada golongan pendakwah, sesungguhnya penghijrahan dan perubahan yang akan kita sama-sama laksanakan ini akan meruntuhkan segala bentuk kebatilan yang telah sedia ada di sekeliling umat Islam yang telah diasak oleh gerakan musuh Islam dan telah menjadi budaya hidup.
Kebathilan ini akan diruntuhkan oleh kita dan kita juga akan sama-sama membangunkan al-Hak atas bumi milik Allah ini, tanpa ada ganjaran yang diharapkan selain yang lebih kekal abadi iaitu syurga Allah Taala.

Semoga Bermanfaat.